DUA PENINGGALAN ARKEOLOGI DI KABUPATEN BULUNGAN: TELAAH MATERIALISME DAN UNSUR ENIGMA

Main Article Content

Nugroho Nur Susanto

Abstract

Mengaitkan tinggalan arkeologi dengan humanisme bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi menyadari bahwa arkeologi dekat dan bagian dari humanisme adalah suatu keniscayaan. Ada dua peninggalan arkeologi yang memiliki kesamaan yaitu dikenal kerena memiliki cerita yang bercampur dengan mitos, kepercayaan yang tak masuk akal atau dikenal dengan istilah misterius atau enigma. Peninggalan itu adalah batu tegak Lahaibara di Sungai Kayan, dan peninggalan Makam Syeh Maulana Maghribi di Sungai Pimping. Secara administratif kedua peninggalan arkeologi tersebut terletak di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Melalui metode observasi dan berpikir kontemplasi filsafat perennial digunakan untuk menjelaskan kemisteriusan atau enigma dari peninggalan-peninggalan tersebut. Pesan humanis yang bisa diperoleh bersifat hakiki menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalankan hidup yang menjadi hakekat dari seluruh agama-agama dan tradisi–tradisi besar spiritualitas manusia. Peninggalan arkeologi ini perlu dihadirkan dalam rangka mengupas aspek meterialismenya dan berusaha mengulik aspek didaktiknya. Spiritualisme tampaknya dapat menyatu dengan material peningalan arkeologi.


Associating archaeological remains with humanism is not an easy matter, realizing how close archeology is as the part of humanism, however, is a necessity. There are two archaeological relics that have something in common, known for having stories mixed with myths, an absurd beliefs or known as mysterious or enigmatic terms. The relics are Lahaibara upright stone in Kayan River, and tomb of Syeh Maulana Maghribi in Pimping River. Administratively, those archaeological remains are located in Bulungan Regency, North Kalimantan Province. The method of observation and contemplative thinking of perennial philosophical were used to illustrate the mysterious or enigmatic terms of the relics. The humanist message that can be obtained is essential regarding the wisdom needed in living a life which is the essence of all major religions and traditions of human spirituality. These archaeological heritages need to be presented in order to explore its materialistic and didactic aspects. Spiritualism seems to be able to unite with archaeological remains.

Article Details

How to Cite
Susanto, N. N. (2020). DUA PENINGGALAN ARKEOLOGI DI KABUPATEN BULUNGAN: TELAAH MATERIALISME DAN UNSUR ENIGMA. Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi, 6(2), 97-112. https://doi.org/10.24832/ke.v6i2.77
Section
Articles